ANALISIS PENGARUH FRICTION DAMPER TERHADAP UPAYA RETROFITTING BANGUNAN DI JAKARTA
(UNIVERSITAS GUNADARMA RIVIEW)

Beberapa tahun terakhir ini sering terjadi gempa bumi khususnya di Indonesia karena letaknya yang berada di pertemuan antar lempeng bumi. Tidak sedikit korban yang timbul akibat bencana ini.. Oleh karena itu saat ini perlu ditinjau mengenai kelayakan bangunan-bangunan lama untuk menahan gaya gempa khususnya gaya gempa yang sesuai dengan peraturan SNI gempa yang baru. Makalah ini membahas salah satu usaha dalam memperbaiki ketahanan suatu bangunan terhadap gaya gempa, yaitu dengan menggunakan alat peredam (damper) khususnya friction damper. Untuk mengetahui besarnya pengaruh alat peredam dalam suatu bangunan, maka dilakukan analisis bangunan terhadap gaya gempa untuk mendapatkan beberapa parameter komparatif untuk  membandingkan tingkah laku antara bangunan tanpa peredam dan menggunakan alat peredam. Analisis dalam hal ini dibantu dengan menggunakan program SAP 2000. Hasilnya menunjukan bahwa alat peredam memberikan peningkatan performa bangunan yang cukup baik untuk menahan gaya gempa sehingga pemasangan damper pada bagunan lama menjadi salah satu solusi yang baik.
              Bangunan khususnya bangunan tinggi perlu memperhatikan bahaya dari getaran yang terjadi karena dapat menimbulkan kerusakan atau bahkan keruntuhan pada bangunan, salah satu  penyebab getaran adalah gempa bumi. Gempa merupakan fenomena alam yang paling mengkhawatirkan, karena tempat dan waktu yang tidak  dapat  diperkirakan  kapan  akan terjadinya. Indonesia merupakan negara yang berada di pertemuan  lempeng  bumi  sehingga  rawan terjadi gempa dan oleh karena itu di Indonesia telah dilakukan pembaharuan peraturan gempa sebanyak tiga kali yaitu peraturan muatan Indonesia tahun 1970, peraturan gempa untuk gedung pada tahun 1983, SNI gempa 2002, dan SNI gempa 2012.
            Menambahkan redaman dan kekakuan elemen berdasarkan deformasi plastis pada baja ringan untuk mendisipasi energi sehingga mengurangi respon juga dikemukakan oleh Scholl, 1996. Redaman adalah suatu proses dimana sistem struktur mendisipasi dan menyerap energi  yang masuk ke dalam bangunan dari eksitasi eksternal. Karena itu peredam (damper) mengurangi penambahan energi regangan dan respon dari sistem, terutama kondisi dimana mendekati  resonansi dimana peredam mengontrol respon. Besarnya nilai redaman tergantung dari beberapa

Faktor seperti amplitudo getaran, material konstruksi, periode getaran, mode shapes, dan konfigurasi struktur.  Ada beberapa jenis perangkat kontrol pasif dan peredam. Friction dampers pasif menggunakan gesekan Coulomb untuk mendisipasi energi yang masuk akibat gempa. Alat redaman ini telah digunakan secara luas dalam berbagai proyek perkuatan di seluruh dunia, karena biayanya yang rendah dan kinerja yang baik. Selain itu, Passive dampers adalah bentuk yang paling lama dan umum digunakan. Passive dampers biasanya ditempatkan pada cross bracing diantara dua lantai yang berdekatan. Passive dampers menggunakan perpindahan dari lantai  untuk  menghasilkan gaya readaman pada bangunan. Tidak seperti perangkat aktif  dan  semi-aktif,  perangkat  pasif tidak dapat merubah sifat redamannya berdasarkan respon dari struktur dan karena itu tidak memerlukan sumber energi listrik atau kontrol algoritma untuk beroperasi.  Tanpa  peralatan  sensor atau komputasi, perangkat pasif umumnya yang paling ekonomis dan paling banyak digunakan.
Kriteria ini dipakai untuk memperoleh perkiraan nilai slip load. Pengoptimalan dari nilai slip load membutuhkan tahapan dari non-linear time history analysis, di mana slip load divariasikan dan amplitudo respons dievaluasi. Penelitian oleh Filiatrault dan Cherry, 1987 mendapatkan bahwa nilai kisaran 25% dari optimum slip load tidak akan mempengaruhi respons struktur secara signifikan. Oleh karena itu, kisaran 8% - 10% dari optimum slip load dapat dipakai tanpa harus melakukan penyesuaian pada friction damper .
Secara umum, batas bawah dari slip load diperkirakan 130% dari beban angin, sedangkan batas atas sekitar 75% dari beban yang menyebabkan struktur mengalami runtuh. Seleksi dari nilai slip load harus dapat memastikan bahwa setelah gempa terjadi, sistem struktur akan dapat kembali seperti bentuk semula karena masih dalam batas elastisitas struktur.

Gambar 1. Damper


Gambar 2. Perletakan Damper

Nama   : Familia Dewi Kartika
Npm    : 12315460
Kelas   : 4TA06
Dosen  : I Kadek Bagus Widana Putra
Jurusan: Teknik Sipil Dan Perencanaan
UNIVERSITAS GUNADARMA



DAFTAR PUSTAKA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

makalah ilmu budaya dasar manusia dan cinta kasih

Pengaruh Game Terhadap Kehidupan Pelajar

GLOBALISASI